Sumur Windu Ken Dedes di Singhasari

Sumur Windu Ken Dedes, sebagai salah satu situs bersejarah di Kota Malang memiliki beragam eksotisme yang patut diperhatikan. Situs keagamaan ini dipercaya memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai situs yang ditemukan di sekitarnya.

Sumur Windu yang memiliki arti sumur tak berujung ini letaknya berada di luar pagar cungkup, yaitu di sebelah barat dan utara. Diduga, situs ini juga berhubungan dengan situs Joko Lulo yang ada disebelah timurnya serta lorong bawah tanah yang ditemukan di Polowijen Gang II.

“Dan dipercaya ada jalan bawah tanah dari Polowijen ini menuju Kerajaan Singhasari, yang juga diyakini sebagai jalan menyimpan harta karun,” kata perwakilan juru kunci Sumur Windu Ken Dedes, Sugianto kepada MalangTODAY, Minggu (2/4).

Menurutnya, lorong bawah tanah yang terletak di Polowijen Gang II dan masih berhubungan dengan Sumur Windu Ken Dedes tersebut telah ditutup pagar. Masyarakat pun dilarang untuk memasukinya. Sebab banyak terjadi peristiwa yang tak diinginkan, oleh karenanya menurut warga setempat dianggap berbahaya.

Sementara di dalam kompleks sumur ternyata juga terdapat banyak penemuan bersejarah. Salah satunya Watu Kenong (batu umpak) atau batu berbentuk menyerupai gong. Batu berusia ratusan tahun itu sebelumnya juga sempat menghilang, dan kembali ditemukan ditempatnya semula.

“Batu tersebut pernah hilang, dan tiba-tiba saja kembali sendiri,” tambah pria berusia 50 tahun ini.

Tak hanya itu, dia juga bercerita, sumur yang saat ini ditutup itu dulunya merupakan kompleks diletakkannya patung asli dari Ken Dedes. Namun karena keindahannya, patung yang dipahat sejak ratusan tahun lalu itu dibawa ke Belanda. Kini, patung tersebut sudah dikembalikan ke Indonesia dan disimpan di Museum Nasional.

“Patung Puteri Ken Dedes konon mengeluarkan cahaya pada bagian kening dan kaki. Sehingga dibawalah ke Belanda,” urai Sugianto.

Dia menyebutkan, situs tersebut juga diyakini erat kaitannya dengan Puteri Ken Dedes dan Kerajaan Majapahit. Menurutnya, perempuan yang digambarkan memiliki paras ayu itu dibesarkan di Polowijen. Sebelum akhirnya diboyong ke kerajaan Singhasari oleh Raja Ken Arok.

“Sedangkan orangtuanya adalah Pendeta Agama Budha Mpu Purwa di Panawijen atau Eyang Purwonoto,” tambahnya.(pit/zuk)

Advertisements

Menarik wisatawan asing di Candi Singosari

Liburan kali ini banyak dimanfaatkan wisatawan untuk berkunjung ke tempat wisata di Kabupaten Malang.

Salah satunya wisata bersejarah Candi Singosari. Objek wisata ini diminati wisatawan mancanegara lantaran merupakan peninggalan sejarah kejayaan Kerajaan Singosari yang dipimpin Raja Ken Arok.

Terlihat, puluhan wisatawan asing silih berganti melihat candi yang terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari tersebut.

Mereka melihat bekas peninggalan kerajaan Hindu itu, seperti Arca Dwarpala, sebagai  patung penjaga gerbang berbentuk manusia atau hewan.

Sebelum pengunjung masuk ke tempat suci untuk upacara umat Hindu tersebut, terlebih dahulu wisatawan harus mengisi buku tamu yang disediakan di pos depan pintu masuk candi.

Lalu, membayar uang sukarela untuk membayar perawatan petugas penjaga candi.

Juru Pelihara Candi Singosari, Damanhuri menjelaskan musim liburan pengunjung yang datang rata-rata dari pelajar yang mengadakan study tour. Selain pelajar, banyak juga wisatawan asing yang berkunjung di sini.

“Kalau pelajar kebanyakan dari luar kota khususnya Bali. Sedangkan wisatawan asing dominan dari Belanda dan Perancis,” ungkap pria 59 tahun tersebut.

Dia menceritakan Candi Singosari ini dimanfaatkan umat Hindu dan penganut aliran kepercayaan sebagai tempat ritual keagamaannya.

“Paling ramai pas hari liburan sekolah. Apalagi kemarin ramai dari rombongan orang Bali datang ke sini usai merayaan upacara Galungan bagi umat Hindu,” terang dia.

Disamping itu, untuk melestarikan area Candi Singosari, ia mengatakan sudah ada tim sebanyak 5 petugas untuk perawatan dan pemetaan candi. Perawatan candi mulai muka kala, sampai area candi.

“Perawatan dilakukan dengan membersihkan rumput, dan lumut yang menempel di candi,” tegasnya.

Jembatan Timbang Singosari Dijadikan Rest Area

Jembatan Timbang di Jalan Raya Singosari Kabupaten Malang berubah menjadi tempat istirahat selama arus mudik dan balik. Rest area itu dimulai 1 Juli hingga 10 Juli 2016 mendatang. Pemakaian jembatan timbang sebagai tempat istirahat ini mengacu kepada surat edaran Kementerian Perhubungan.

“Berbarengan dengan dilarang beroperasinya angkutan berat dan truk selain pengangkut bahan bakar dan makanan pokok. Jadi selama itu, jembatan timbang dipakai untuk tempat istirahat atau rest area,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Lely Aryani, Sabtu (2/7/2016).

Perubahan jembatan timbang sebagai rest area itu tidak mengganggu aktivitas karena operasional memang berhenti mulai 1 – 10 Juli. Jembatan timbang Singosari terletak di tepi Jalan Raya Singosari, jalur utama Surabaya-Malang. Jalur itu merupakan jalur pemudi dari dan menuju Malang Raya dan sekitarnya seperti Blitar dan Kediri. Tidak hanya pemudik, jalan itu juga menjadi perlintasan wisatawan yang berwisata ke Malang Raya selama libur Lebaran.

Sebagai rest area, tempat itu dilengkapi sejumlah fasilitas seperti tenda buatan berukuran besar bagi pengemudi yang ingin beristirahat. Terdapat pula empat toilet dan musala serta disediakan makanan ringan dan minuman. Tenaga medis dari Puskesmas Singosari juga bersiaga untuk memberikan pertolongan pertama pada gangguan kesehatan yang sering dijumpai akibat terlalu lelah berkendara.

Lely menyebut tahun lalu puncak pengunjung mencapai 4.900 orang dalam satu hari. Tahun ini jumlah pemakai rest area Jembatan Timbang Singosari diprediksi mencapai 5.000-an orang. “Pengunjung paling ramai terjadi setelah salat ied, H+1 hingga H+2,” katanya.

Lely menambahkan meskipun sasaran utama rest area itu pemudik, tetapi setiap tahunnya selalu didominasi wisatawan yang beristirahat. Wisatawan itu biasanya istirahat setelah terkena kemacetan, terutama menuju dan dari Kota Wisata Batu.