Rujak Cingur Bude Ruk

Bagi Anda yang ingin bernostalgia ataupun bosan dengan kuliner modern, mampirlah ke Warung Legendanya Kepanjen yaitu Warung Rujak Cingur Bude Ruk.

Menu khas masyarakat Jawa Timur ini di tangan Bude Ruk menjadi masakan dengan cita rasa mewah.

Berdiri sejak tahun 1960-an,  Warung Rujak Cingur Bude Ruk bisa dibilang warung tertua yang masih bertahan di Kepanjen. Cita rasa rujak cingur di warung ini masih dipertahankan sampai kini. Harganya pun cukup murah. Setiap porsi hanya dipatok dengan harga Rp 10 ribu.

Warung Rujak Bude Ruk berada di Jalan Soeroeji Nomor 17, tepatnya di Gang 1 yaitu gang yang menghubungkan Jl. Soeroeji dengan Jl. Sultan Agung (Sawunggaling) tepatnya di sebelah gedung Pusat Kajian Belajar Masyarakat (PKBM).

Karena nama Rujak Bude Ruk ini begitu melegenda di daerah ini sehingga gang nomor 1 ini pun diberi nama Gang Rujak sampai sekarang atas inisiatif warga.

“Saya itu sejak muda sudah biasa makam rujak cingurnya Bude Ruk. Dari masih lajang sampai sekarang sudah punya cucu dan cicit,” kata Saefullah (75) asal Dilem Kepanjen.

Yang bikin kangen dari rujak Bude Ruk, lanjut Saefullah adalah rasanya yang tidak bisa ditiru oleh warung rujak cingur lainnya.

Saat Terminal ARJOSARI mencobanya terbukti bahwa rasanya memang spesial dan beda dengan yang lain.

Meskipun dengan bahan yang sama yakni tauge, mentimun, kangkung, bengkuang, tempe, tahu, cingur dan sambel petis namun rasanya sangat menggigit di lidah.

“Mungkin racikan bumbu rujaknya yang membedakan rujak cingurnya Bude Ruk dengan rujak cingur lainnya. Selain tentunya bahan-bahan rujak yang terlihat segar. Rasanya nggak bikin enek, pokoknya enak lah untuk makanan rujak,” kata Wawan (25) penduduk asli Gang Suruji yang sejak kecil sudah merasakan enaknya rujak cingur Bude Ruk.

Setiap harinya warung rujak cingur ini didatangi pembeli yang tak hanya dari warga sekitar, tapi juga ada yang datang dari luar Kepanjen.

“Merasakan sensasi rujak cingur legenda sekaligus mengenang waktu dulu saat masih muda kalau ke rumah saudara di daerah Kepanjen, orang tua selalu mengajak makan di sini,”kata  Budiman asal Tulungagung saat bersantap siang di Warung Bude Ruk.

Kelihaian Bude Ruk dalam meracik bumbu rujak menjadi senjata andalan warung ini dalam menggoyang lidah sekaligus menyediakan ruang nostalgia masa kanak dan muda para pengunjungnya.

Advertisements

Rujak Mak Tun, Enak banget

Menuju warung rujak Mak Tun ini memang tidak begitu sulit. Meski lokasinya tidak berada di tepi jalan besar, penggemar rujak Mak Tun tetap rela parkir di tepi jalan besar. Rujak legendaris yang sudah eksis sejak tahun 1980 ini berada tepat di belakang Pasar Bululawang.

Agar benar-benar sampai ke lokasi warung rujak, harus ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua. Sebab, mobil tidak masuk ke jalan warung rujak. Warung rujaknya ada di tengah tanah kosong yang luasnya tidak seberapa. Tidak ada papan nama untuk warung ini. Namun penduduk sekitar sudah tahu nama dari kuliner legendaris ini. Warungnya sederhana dengan bangunan semipermanen bercat paduan hijau dan cokelat. Luasnya mungkin hanya sekitar 4×5 meter saja.

Warung ini didirikan oleh Maatun, 65, sejak 35 tahun yang lalu. Perempuan yang akrab disapa Mak Tun ini menjelaskan, awalnya dia bukanlah seorang penjual rujak. Tapi, menjadi pengasuh bayi dan asisten rumah tangga, di rumah salah satu tetangganya tidak jauh dari tempat dia tinggal. ”Saya jadi pengasuh bayi tidak lama. Mungkin sekitar tiga tahun saja,” terang Mak Tun, saat ditemui pada Selasa (10/11) lalu, sambil terus mengulek bumbu rujak untuk pelanggannya.

Rujak Mak Tun
Rujak Mak Tun

Merasa kecapekan dengan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dan pengasuh bayi, akhirnya sekitar tahun 1980-an, Mak Tun memutuskan untuk berhenti. Bingung ingin membuka usaha, membuat perempuan yang sudah menjanda empat tahun ini memilih untuk belajar membuat rujak kepada salah satu kakaknya, (Alm) Jumaati. ”Kakak saya lebih dulu jualan rujak. Kemudian saya juga ikut belajar dagang rujak,” terangnya.

Setelah menguasai ’ilmu’ rujak-merujak, akhirnya Mak Tun membuka usahanya sendiri. Awal mulanya, dia membuka usaha kuliner itu juga tidak jauh dari tempatnya mendirikan warung sekarang. Hanya berjarak sekitar lima meter saja. ”Dulu masih warung tenda, sekarang sudah warung seperti sekarang,” ujar dia.