Diguyur Hujan, Kegiatan ‘Maleman’ Masjid Jami Tetap Khusyuk

Hujan yang mengguyur Kota Malang beberapa hari ini tidak menyurutkan semangat jamaah Masjid Jami Kota Malang untuk melaksanakan ‘Maleman’.

Kegiatan yang dilaksanakan pada malam ganjil disepuluh hari terakhir ramadan ini justru bertambah khusyuk seperti yang terlihat pada malam 25 dan 27 ramadan kemarin.

Ada pemandangan tidak biasa, saat para jamaah sedang khusyuk menjalani salat witir, tiba-tiba hujan deras mengguyur Kota Malang khususnya di sekitar masjid.

Namun demikian, jamaah khususnya yang berada di halaman luar masjid tetap tidak beranjak meskipun air hujan membasahi tubuh mereka.

“Alhamdulillah, saya dan keluarga istiqomah berjamaah di Masjid Jami Malang khususnya  pada malam ganjil disepuluh malam terakhir seperti sekarang,” ujar Muhtadi, warga Kelurahan Merjosari yang saat itu membawa istri dan dua orang anaknya ikut kegiatan ‘Maleman’ di Masjid Jami Kota Malang.

Seperti jamaah yang lain, usai salat tarawih pada pukul 20.10 WIB, dia bersama keluarganya pulang dulu ke rumah.

Pada pukul 22.30 WIB lalu dia kembali lagi ke masjid untuk berkumpul dengan jamaah yang  lain dan mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi salat witir 11 rakaat, wirid, dan taushiyah  agama dari para ulama Kota Malang.

Saat itu, taushiyah agama diisi oleh KH Isyroqun Najah, Ketua PCNU Kota Malang yang sekaligus juga pengasuh dan pembina Ma’had Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.

Dalam taushiyahnya ulama yang akrab disapa Gus Isy ini mengulas tentang kisah yang memuat dialog Nabi Musa dan Nabi Khidir.

Para jamaah yang memenuhi masjid hingga halaman depan tampak dengan penuh konsentrasi mendengarkan tausyiah di tengah dinginnya air hujan yang mengalir di sekujur tubuh mereka.

Tradisi Uang Infaq Masjid Jami Malang

Tradisi dan kegiatan rutin Takmir Masjid Jami’ di Kota Malang setiap Jumat adalah menghitung Infaq. Seperti yang terjadi pada Jumat (17/6/2016). Kala itu seluruh takmir duduk menghitung satu persatu uang di hadapan mereka.

Lalu apa alasan mereka menghitung pada Jumat? Anggota Takmir Masjid Jami’, Erwin Adi mengatakan pemilihan hari bukan berdasarkan perhitungan hari baik atau berdasarkan kalender jawa, tetapi memang hari yang tepat untuk menghitung setiap minggu sekali.

“Tidak memungkinkan kalau setiap hari dihitung, tenaga juga sedikit. Lalu kalau setiap bulan juga rentan waktu yang cukup lama. Pasnya ya hari Jumat seminggu sekali. Untuk merekapnya juga mudah bagi kami,” tuturnya saat ditemui di Masjid Jami’, Jumat.

Pehitungan infaq kotak amal Masjid Jami’ ini ada empat kotak amal, yakni Kotak Pembangunan, Kotak Duafa, Kotak Yatim, dan Kotak Beberan (kas masjid).

Dari perhitungan di bulan ramadan sejak Hari Jumat pertama Ramadan ini, keempat kotak amal ini menunjukkan jumlah yang berbeda.

Perhitungan hari ini, kotak pembangunan sebanyak Rp 7 juta, kotak duafa sebannyak Rp 17 juta, kotak yatim sebanyak Rp 29 juta, dan kotak beberan sebanyak Rp 19 juta.