Sempol Kari Apel Ala Hotel Gets Malang

Sempol, jajanan yang satu ini sudah pasti nggak asing lagi ya guys. Biasanya, abang di pinggir jalan membuatnya dengan daging ayam dan adonan khusus.

Lantas, kira-kira bagaimana ya, kalau Sempol itu dikreasikan dengan buah apel dan cita rasa hotel berbintang? Pasti yummy banget deh.

Karena pamornya yang tinggi itu, Gets Hotel Malang pun mencoba mengkreasikannya dengan inovasi baru. Sajian sempol ini dibuat dengan bahan utama daging ayam dan apel Malang. Penasaran seperti apa bikinnya? Berikut ini resep yang dibagi oleh Excecutive Chef Gets Hotel Malang, Chef Karyono.

Menurutnya, bahan yang dibutuhkan untuk membuat jajanan ini sangat mudah. Mulai dari bawang merah, bawang putih, merica bubuk, bumbu kari apel, santan, kaldu ayam, tepung terigu, hingga tepung kanji. Tidak ketinggakan, buah apel dan telurnya juga ya guys.

“Cara membuatnya pun sangat mudah,” katanya pada Media.

Langkah pertama yang harus kalian lakukan menurut Chef Karyono adalah mencincang daging ayam terlebih dulu. Selanjutnya, daging diblander bersama bawang merah dan bawang putih. Setelah halus, tambahkan bumbunya seperti gula, garam, merica bubuk, kaldu ayam, bumbu kari ayam, tepung terigu, tepung kanji, sedikit santan dan telur.

“Semua diaduk menjadi satu, lalu jangan lupa setelah dimasukkan semua tambahkan daging apel yang juga dicincang, dan aduk lagi hingga rata,” tambahnya.

Setelah adonan menyatu, maka langkah berikutnya adalah membentuk adonan tersebut layaknya sate lilit atau sempol, dengan menggunakan tusuk sempol. Setelah selesai, maka adonan tersebut direbus di dalam adonan kari apel sampai matang.

Setelah matang dan bumbu meresap, maka langkah selanjutnya adalah menggorengnya dengan minyak yang panas. Sebelumnya, baluri sempol dengan telur yang telah dikocok. Tapi apabila tidak suka digoreng, maka kalian bisa nemanggangnya loh guys.

“Tanpa dipanggang atau digoreng pun, sebenarnya setelah direbus juga bisa dikonsumsi,” tambah pria ramah ini.

Lanjut, untuk membuat saus kari apelnya guys. Bahan utamanya, masih tetap apel Malang yang ditambah dengan sambal dan bumbu kari. Semua bahan dimasak menjadi satu layaknya saus pada umumnya.

Setelah selesai, sempol dan saus kari apelnya yang menggoda itu bisa disajikan selagi masih hangat ya guys. Selain ada kenikmatan bumbu kari yang kental dan meresap, krunchi apel yang dicincang pun masih sangat terasa loh guys, plus asemnya yang menggoda.

Sementara itu, Media Relations Gets Hotel Malang, Andina Paramitha menambahkan, pihak hotel memang sengaja membuka cooking class bagi tamu yang penasaran untuk mengolah berbagai sajian khas hotel berbintang. Sehingga, tamu juga dapat berkreasi dengan olahan yang nantinya akan dinikmati.

“Hidangan yang kami sajikan sebenarnya juga banyak foodstreet, dan dengan kemasan yang berbeda,” ujarnya.

Sedangkan untuk olahan sempol itu sendiri menurutnya dibandrol Rp 10 ribu dan untuk cooking class Rp 75 ribu per orangnya. Selain cooking class, pihak hotel juga menyediakan Latte Art, dan cocok buat kalian yang ingin belajar melukis dengan kopi di atas sebuah cangkir.

Advertisements

Malang Destinasi KEKINIAN Pecinta Kuliner

Sejak 2016, Kota Malang sudah ditetapkan sebagai destinasi kuliner. Buat kalian para pecinta makanan, rugi banget kalau nggak mencoba aneka hidangan.

Kasie Promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Malang, Agung Bhuwana, mengatakan, penetapan tersebut sesuai dengan penandatanganan MOU dengan Kementerian Pariwisata pada tahun 2016.

“Di Malang tidak ada wisata alam atau buatan, dan yang paling unggul adalah wisata kulinernya,” ujarnya pada Media.

Menurutnya, ada begitu banyak pusat perbelanjaan dan wisata event yang sering ditunggu-tunggu oleh turis. Sehingga, Kota Malang dapat menjadi salah satu area surganya kuliner dan belanja.

“Mulai tahun ini baru dimaksimalkan lagi semangat Kota Malang dengan destinasi kuliner,” tambahnya.

Kota Malang sendiri memiliki aneka kuliner yang sudah mengakar dan populer. Nama dan aneka menunya sudah sangat di kenal di kalangan wisatawan asing. Sehingga tidak jarang, saat berkunjung ke Malang akan mampir.

Rujak Cingur Bude Ruk

Bagi Anda yang ingin bernostalgia ataupun bosan dengan kuliner modern, mampirlah ke Warung Legendanya Kepanjen yaitu Warung Rujak Cingur Bude Ruk.

Menu khas masyarakat Jawa Timur ini di tangan Bude Ruk menjadi masakan dengan cita rasa mewah.

Berdiri sejak tahun 1960-an,  Warung Rujak Cingur Bude Ruk bisa dibilang warung tertua yang masih bertahan di Kepanjen. Cita rasa rujak cingur di warung ini masih dipertahankan sampai kini. Harganya pun cukup murah. Setiap porsi hanya dipatok dengan harga Rp 10 ribu.

Warung Rujak Bude Ruk berada di Jalan Soeroeji Nomor 17, tepatnya di Gang 1 yaitu gang yang menghubungkan Jl. Soeroeji dengan Jl. Sultan Agung (Sawunggaling) tepatnya di sebelah gedung Pusat Kajian Belajar Masyarakat (PKBM).

Karena nama Rujak Bude Ruk ini begitu melegenda di daerah ini sehingga gang nomor 1 ini pun diberi nama Gang Rujak sampai sekarang atas inisiatif warga.

“Saya itu sejak muda sudah biasa makam rujak cingurnya Bude Ruk. Dari masih lajang sampai sekarang sudah punya cucu dan cicit,” kata Saefullah (75) asal Dilem Kepanjen.

Yang bikin kangen dari rujak Bude Ruk, lanjut Saefullah adalah rasanya yang tidak bisa ditiru oleh warung rujak cingur lainnya.

Saat Terminal ARJOSARI mencobanya terbukti bahwa rasanya memang spesial dan beda dengan yang lain.

Meskipun dengan bahan yang sama yakni tauge, mentimun, kangkung, bengkuang, tempe, tahu, cingur dan sambel petis namun rasanya sangat menggigit di lidah.

“Mungkin racikan bumbu rujaknya yang membedakan rujak cingurnya Bude Ruk dengan rujak cingur lainnya. Selain tentunya bahan-bahan rujak yang terlihat segar. Rasanya nggak bikin enek, pokoknya enak lah untuk makanan rujak,” kata Wawan (25) penduduk asli Gang Suruji yang sejak kecil sudah merasakan enaknya rujak cingur Bude Ruk.

Setiap harinya warung rujak cingur ini didatangi pembeli yang tak hanya dari warga sekitar, tapi juga ada yang datang dari luar Kepanjen.

“Merasakan sensasi rujak cingur legenda sekaligus mengenang waktu dulu saat masih muda kalau ke rumah saudara di daerah Kepanjen, orang tua selalu mengajak makan di sini,”kata  Budiman asal Tulungagung saat bersantap siang di Warung Bude Ruk.

Kelihaian Bude Ruk dalam meracik bumbu rujak menjadi senjata andalan warung ini dalam menggoyang lidah sekaligus menyediakan ruang nostalgia masa kanak dan muda para pengunjungnya.

Kue Sus Kering Isi Coklat

Usaha jajanan atau makanan kering (kue kering) merupakan bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek sangat cerah. Apalagi memasuki hari lebaran Keuntungan yang didapat bisa berkali-kali lipat dari modal yang digelontorkan. Namun, usaha makanan ringan ini mempunyai banyak saingan dan bersifat momentum saja.
Variasi makanan yang itu-itu saja juga membuat pelanggan terkadang bosan. Namun ditangan Ines Farah Mufida, dibuatlah  jajanan kering yang beda dari yang lain, dengan membuat kue sus yang beda dari kue sus kering  pasaran. Jajanan ini mengusung brand Mamakey Soes yang bertempat di Jalan Gondomono Sengguruh Kepanjen Malang.
Mamakey Soes merupakan usaha rumahan yang bediri pada tahun 2013. ”Nama Mamakey yang berarti mama atau ibu dan key yang merupakan bahasa inggris dari kunci. Saya berkeinginan usaha ini merupakan awal kunci kesuksesan saya dengan berkat rahmat dan dukungan ibu saya, usaha ini dapat berjalan sampai saat ini,” ujar Ines perihal nama produknya.
”Awal usaha ini saya tekuni karena saya ingin membantu ekonomi keluarga untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah, selain itu saya tetap berkeinginan dari kecil dengan ingin berdagang, dengan modal dan dukungan tersebut saya berani membuat produk buatan sendiri,” lanjutnya.
Pada tahun pertama pemilik hanya berjualan kue kering lebaran pada umumnya seperti nastar, kastengel dan lain-lain hingga sekarang . Namun dirasa kurang menghasilkan, sehingga pada tahun 2015 pemilik berfikir untuk membuat jajanan sendiri yang tidak didapat pada saat lebaran saja namun setiap saat ada untuk menemani diwaktu santai maupun mengerjakan tugas.
Produk Mamakey Soes banyak dinikmati oleh berbagai kalangan, banyak pesanan dari kalangan remaja sampai orang tua menunjukkan kesukaannya dengan aktif memberikan testimoni di media online Mamakey Soes di instagram. Kebanyakan mereka menyukai kue kering yang coklat isiannya smooth, membuat lumer di mulut dan yang pasti enak.
”Saya membuat soes kering dengan isian coklat karena perpaduan rasa yang dihasilkan crunchynya soes atau tekstur kering dan lumernya coklat mamakey banyak disukai mungkin karena hal tersebut yang membuat khas dari produk saya,” jelas Ines meyakinkan harga produknya terjangkau.
Namun meski tidak harus merogoh kantong terlalu dalam, Mamakey Soes tidak melupakan kualitas produk dengan tetap menggunakan bahan pilihan, bahan makanan yang sesuai  dan higienis dalam pembuatannya. Walaupun harga terjangkau dan produk rumahan namun kualitas tetap diutamakan.
Mamakey Soes juga menyediakan pesan antar, hal ini perwujudan rasa nyaman dan praktis serta memudahkan konsumen untuk menikmati Mamakey Soes. Namun dengan wilayah orderan  sekitar kampus UM dan UB

Kupang Keraton Laksamana Martadinata

Kota Malang memang surga kuliner. Hampir semua jenis kuliner khas tersaji di berbagai sudut kota, salah satunya Kupang Keraton di Jalan Laksamana Martadinata (dekat Kantor Bank BRI). Warung yang terletak di pinggir jalan ini bisa dibilang legendaris, karena sudah eksis sejak 25 tahun lalu.

Olahan kerang dan kupang dengan petis yang khas, menjadi daya tarik tersendiri dari makanan khas wilayah Pasuruan tersebut.

Misrah (65), sang penjual, mengaku, untuk mendapatkan kualitas kupang dan kerang yang fresh, pihaknya sengaja bolak balik Malang – Pasuruan hanya untuk memanjakan lidah para konsumennya.

Ia tidak mau membeli kupang dan kerang yang tidak langsung dari nelayannya, karena kurang segar untuk disajikan. “Agar kupang ini segar saya harus dapatkan langsung dari nelayannya dan langsung saya masak untuk dijual,” kata Misrah kepada Terminal Arjosari Team, dini hari tadi.

Tak hanya itu, bila Misrah tidak mendapat kupang dan kerang yang fresh hasil tangkapan dari laut, dia rela tidak berjualan, demi menjaga reputasi makanannya.

“Intinya saya tidak mau mengecewakan pembeli, saya selalu memilih bahan yang baru, mending saya libur kalau tidak ada kupang dan kerang yang masih segar,” timpalnya.

Kupang Keraton memang memiliki ciri khas, dibanding masalan kupang lainnya. Menggunakan bawang putih, lombok dan jeruk nipis sebagai bahan dasarnya, perpaduan antara kuah, petis dan olahan tiga bumbu dasar itu bisa menyatu dan menghasilkan rasa yang super mbois.

“Selain kupang juga ada sate kerang yang kami sajikan kepada pembeli,” tukasnya.

Warung legendaris ini, sempat mencicipi megahnya bioskop Garuda yang tenar di era 1980-an hingga 1990-an. Misrah mengaku, saat itu warungnya menjadi jujugan para warga yang keluar dari bioskop, usai menonton film.

Sate Kambing Pak Salim

Warung bercat kombinasi warna putih dan cokelat yang berada di Jalan Panglima Sudirman Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang ini buka mulai pagi pukul 06.00. Hampir setiap kali dibuka, beberapa menit kemudian sudah ramai pengunjung yang ingin segera menikmati masakan sate dan gule kambing buatan keluarga Salim.

Tak heran meski matahari belum terbenam, warung yang berada sebelah utara Pasar Sumberpucung ini sering sudah tutup karena ludes diborong pelanggan setianya. Pemandangan ini tersaji pada Rabu Siang (19/8) lalu, belasan orang silih berganti memasuki warung dengan luas sekitar 8 x 8 meter tersebut.

Warung dengan meja dan kursi kayu berwarna cokelat ini tak pernah kosong lebih dari lima menit. Satu pelanggan selesai, ganti pelanggan lain yang mengisi atau pelanggan lain yang sengaja untuk dibungkus dinikmati di rumah masing-masing.

Sate Kambing Pak Salim
Sate Kambing Pak Salim

Continue reading “Sate Kambing Pak Salim”

Warung Lama H Ridwan sejak 1925

WARUNG Lama Haji Ridwan boleh dibilang usaha kuliner tertua di Kota Malang. Pasalnya kuliner ini sudah ada sejak tahun 1919 silam. Yusuf Bachtiar yang mengelola warung itu merupakan generasi ketiga.

Perintis sekaligus pengelola pertama adalah alm H Ridwan. Kala itu, Warung Lama belum masuk ke dalam Pasar Besar Malang (PBM), seperti saat ini. Mulanya, Ridwan berjualan menggunakan gerobak yang dipikul, layaknya soto Madura. Pikulan ini juga berfungsi mengangkut gerobak berisi barang dagangan dari rumahnya di kawasan Temenggungan menuju Pasar Besar.

Warung Lama H Ridwan
Warung Lama H Ridwan

Continue reading “Warung Lama H Ridwan sejak 1925”