RM Bojana Puri, Rumah makan ala Rumahan

Banyak wisata kuliner yang tumbuh dan terus bertahan dalam gempitanya kuliner baru saat ini.

Rumah Makan Bojana Puri Kepanjen Kabupaten Malang adalah salah satu tempat kuliner yang masih eksis dengan ciri kejawaan yang kekinian.

Baik menu makanan  dan minumannya yang menggugah selera maupun nuansa jawa yang dipertahankan lewat dekorasi ruangannya.

Sebagai salah satu wisata kuliner di Kepanjen, Bojana Puri merupakan tempat legendaris yang masih memiliki magnet kuat untuk menarik orang datang untuk makan dan minum, baik dalam maupun luar daerah.

Meminjam Bahasa Sansekerta, nama rumah makan ini, memang telah mencuri perhatian para pecinta kuliner untuk mencicipi kelezatan menu makanan khas Jawa dengan cita rasa makan ala rumahan secara berjamaah.

Sampai ada pameo makan di Bojana Puri kurang lengkap kalau sendiri, hal ini sesuai dengan arti Bojana Puri yaitu tempat makan untuk kumpul bersama.

“Seenak dan sebagus apapun rumah makan, kalau makannya seorang diri tetap rasanya enggak greng, mas. Apalagi bagi yang terbiasa makan bersama di rumah. Di sini menu makanan dan suasananya memang terasa makan di rumah saja,”kata Nasrullah asal Wonosari yang datang bersama keluarga tercintanya.

Menu makanan Bojana Puri yang maknyuuuss, memiliki beberapa masakan andalan, seperti Gurami Asam Manis. Bumbu asam manisnya begitu terserap ke dalam gurami.

Tak cukup dengan gurami, Anda bisa memesan berbagai menu lainnya yang tak kalah enak seperti Sop Buntut, Gule Kambing, Pecel, Lodeh Soto Ayam, Gado gado, Nasi Rawon khas Malang, Kare Ayam dan masih banyak lagi menu lezat lainnya.

Untuk melegakan dahaga Anda bisa memesan aneka minuman segar yang juga khas dan bernuansa tradisional Jawa. Misalnya, Es Beras Kencur, Es Sinom, Es Teler, Es Campur, dan masih banyak lagi menu minuman dingin maupun hangat lainnya.

Makan di restoran ini Anda nggak usah khawatir dengan harga. Meksipun Bojana Puri  berkonsep restoran,  tetapi harga makanan dan minumannya yang maknyuusscukup terjangkau.

Makanannya  dibandrol antara  Rp.10 ribu sampai dengan Rp.30 ribu per porsi.  Untuk minumannya berkisar Rp. 5.000 sampai Rp. 7.000 saja per porsi.

Pengunjung pun tidak perlu bingung saat memarkir kendaraan, karena Bojana Puri memiliki areal parkir luas.

Selain tentunya lokasi rumah makan ini letaknya sangat strategis, yakni di pinggir Jalan Raya Panglima Sudirman Nomor 26, Kepanjen Malang.

Rawon Brintik Malang

Terminal Arjosari – Malang dikenal sebagai surganya kuliner lawas, salah satu yang dikenal masyarakat luas adalah Rawon Brintik. Warung makan tersebut sudah berdiri sejak tahun 1942, atau pada saat Jepang memasuki Indonesia setelah mengalahkan Belanda. Jika ke Malang dan belum menemukan rasa rawon yang pas, tidak ada salahnya mencoba kuliner ini.
Rawon Brintik sangat mudah ditemukan karena berada di pusat kota. Tepatnya di Jl. KH. Ahmad Dahlan 39, Malang. Memiliki ruangan yang tidak terlalu besar, penampakan warung ini masih terkesan kuno. Menurut pemiliknya, Hj. Maslika, kesan lama memang dipertahankan turun temurun. Dirinya sebagai generasi ketiga alias cucu pendiri warung ini hanya bisa meneruskan. Kalaupun ada perubahan adalah mengecat di bagian tertentu yang telah kusam.
Kesan klasik muncul saat masuk ke warung tersebut, dengan kursi dan mejanya berderet panjang. Tersedia juga toples hijau besar klasik sebagai tempat krupuk yang ada di setiap meja. Menu andalan warung ini adalah semur daging dan rawon.
“Dulu kakek berjualan rawon di daerah pertukangan (Jalan Gatot Subroto, red). Awalnya memang kita berjualan di rumah sendiri, tetapi lambat laun penggemar rawon ini bertambah sehingga tidak mencukupi lagi jika harus berjualan dirumah. Akhirnya di tahun 1974 boyongan ke jalan Achmad Dahlan 39 yang tempatnya sedikit lebih luas ini,” terang Maslikha kepada Malang Post.
“Nama Rawon Brintik berasal dari nenek moyang kita yang bernama Nafsiah. Beliau dikenal punya rambut brintik (keriting, Red). Entah siapa yang memulai, para pembeli menyebut nama rawon dengan embel-embel brintik untuk membedakan dengan warung rawon lain. Karena saat itu masih belum punya nama, akhirnya nama Warung Brintik menjadi nama dan terkenal hingga sekarang,” lanjutnya.
Maslikha adalah generasi ketiga dari warung ini. Karena dirinya meneruskan usaha kuliner ini dari ibunya, Samiati. Ciri khas rawon yang punya daging empuk dipertahankan hingga sekarang.
Selain rawon, di warung juga menyediakan menu lain yang bisa dipilih, yaitu ayam bumbu rujak, ayam kare, nasi campur, hingga pecel. Masakan di warung ini terasa spesial karena mereka menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama masakan tersebut. Untuk lauk selain krupuk udang dan melinjo, disana juga terdapat tempe dan perkedel.
Harganya cukup terjangkau karena untuk rawon hanya membayar minimal Rp. 20 ribu atau harga bisa bertambah sesuai dengan lauk yang diminta. Sementara itu, Maslikha menambahkan untuk jam operasional Rawon Brintik buka sejak pagi pukul 05.00,  warung ini sudah ramai pengunjung. Terutama para pekerja kantoran yang masuk pagi dan belum sempat sarapan di rumah. Bahkan tidak jarang ada yang tidak mendapatkan tempat kareba begitu ramainya.

Soto Pulung Dowo Gunung Ronggo

Mendengar namanya saja sudah membuat orang penasaran. Apalagi rasanya. Ya, Soto Pulung Dowo. Identitas ini diambil dari lokasi warung yang kini dikelola pasangan suami-istri Muafif Khoirif dan Koko Hariyadi. Tepatnya di Dusun Pulung Dowo, Desa/Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Nama bukan asal comot. Tapi hadiah dari Rendra Kresna saat masih menjadi Bupati Malang (kini mencalonkan lagi di Pilkada Kabupaten Malang). ”Sekitar tiga tahun lalu atau 2012, saat Pak Rendra datang ke sini, langsung diberi nama Soto Pulung Dowo,” ujar Koko.

Soto Pulung Dowo Gunung Ronggo
Soto Pulung Dowo Gunung Ronggo

Ketika itu, maksud Rendra agar daerah ini terangkat dan memiliki ciri khas. Sekaligus agar nama Dusun Pulung Dowo lebih terkenal. ”Kami pikir benar juga, akhirnya kami ganti nama menjadi Soto Pulung  Dowo,” tutur laki-laki berusia 39 tahun itu sembari menambahkan, nama tersebut benar-benar membawa keberuntungan karena makin ramai pembeli.

Selain itu, ada filosofi di balik label ini. ”Pulung itu kan artinya keberuntungan, dan dowo artinya panjang. Jadi kalau dimaknai, maka berarti keberuntungan yang panjang atau terus-menerus,” urai Koko sambil tertawa.

Walau pun baru tiga tahun menjadi Soto Pulung Dowo, sebenarnya warung ini sudah sangat lama. Yakni sejak 1960 silam atau berusia 55 tahun. Ketika itu sang pendiri, Mat Asir, menggunakan nama Soto Ayam Malang. ”Dulu bapak jualan pakai rombong kecil di depan rumah,” ungkapnya.

Sekarang, sudah di dalam warung yang cukup luas dan tertata. Dengan gerobak soto yang khas terbuat dari kayu dengan pikulan kuno. Lambat laun, usaha yang ditekuni Mat Asir semakin ramai. Bahkan, resep tersebut diturunkan kepada lima anaknya dan semuanya mendirikan warung soto. Mereka tersebar di Malang, ada pula yang di Bali. Hanya saja namanya beda-beda. ”Dulu yang jualan bapak. Karena sudah sepuh, kemudian dilanjutkan anak-anaknya,” jelas Koko

Bakso Kikil Malang

Bakso Kikil Seruni ini bisa jadi alternatif pilihan yang memuaskan kala Ngalamers ingin berburu kuliner bakso yang berbeda di tengah dinginnya Kota Malang. Lokasi Bakso Kikil Seruni ini bisa Ngalamers temukan di kawasan Suhat (Soekarno-Hatta). Bangunannya tepat berada di pinggir jalan, jadi akan cukup mudah mengenali lokasinya. Tempatnya sendiri cukup luas, bersih dan rapi.

Meski namanya “Bakso Kikil”, namun ternyata baksonya tidak dibuat dari kikil. Disebut “Bakso Kikil” karena ada banyak potongan-potongan kikil di dalam kuah bakso ini. Kikil-kikil itulah yang menambah citarasa gurih pada kuah baksonya dan menjadikan baksonya berbeda, Ngalamers. Namun kalau Ngalamer ada yang tidak suka kikil, bisa juga kok pesen bakso tanpa kuah kikilnya.

Bakso Kikil Seruni
Bakso Kikil Seruni

Continue reading “Bakso Kikil Malang”