Wisata Paralayang di Kota Batu dengan angin yang lebih aman

Terminal Arjosasi – Cuaca yang tidak menentu selama dua bulan terakhir masih aman untuk aktivitas paralayang. Kondisi angin di Kota Batu relatif stabil dan aman digunakan setiap saat. Rekomendasi itu diberikan salah seorang atlet paralayang profesional yang menggunakan landasan paralayang Gunung Banyak.

”Ada interval waktunya boleh terbang atau tidak. Kalau hujan berhenti. Kalau Batu masih bisa diterbangin tiap hari. Sedangkan Bogor sudah sulit karena angin dari belakang,” kata Dwi Ali Sukoco atlit paralayang asal Banten. Normalnya kecepatan angin untuk terbang adalah 0-20 kilometer per jam. Di landasan paralayang Gunung Banyak Kota Batu, kecepatan angin hanya dua kilometer per jam.

Sementara itu kabut yang kadang terjadi juga bukan masalah. Karena selama landing masih terlihat aman untuk mendarat. ”Kalau visibility nol itu baru bermasalah karena bisa-bisa nabrak gunung,” katanya. Dari landasan paralayang Gunung Banyak, pengunjung bisa melihat penampakan Kota Batu dari atas. Panorama juga luas hingga ke arah Kota Malang. Bagi yang penasaran dengan sensasi terbang tandem, bisa menyewa dengan durasi 5-10 menit dan ongkos Rp 350 ribu. (*)

Advertisements

Petik Stroberi di Kota Batu Naik Harga

Terminal Arjosari – Kebun stroberi yang terhampar di Dusun Pandan Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu terlihat lesu beberapa bulan terakhir. Sejak Desember 2015 lalu, produksi stroberi di desa ini terus merosot. Padahal harga semakin melambung.

Wisatawan yang datang kemari pun terpaksa gigit jari. Karena buah stroberi yang tersedia untuk wisata petik stroberi banyak yang busuk dan tanamannya mati. ”Stroberi sedang surut, cuaca tidak menentu kadang hujan terus menerus kadang tidak.  Sehingga banyak yang mati,” tutur Nursaid, salah seorang petani stroberi..

Di lahan seluas 4.000 meter miliknya, biasanya menghasilkan 60-70 kilogram stroberi per sehari. Namun sejak Desember 2015 lalu, hasilnya tidak menentu. Kadang hanya 5-8 kg sehari.

”Biasanya musim Lebaran seperti ini banyak yang datang ke sini. Wisatawan dari berbagai daerah Madura, Kalimantan, Bali juga. Tapi ya gimana, stroberi lagi banyak yang mati,” paparnya.

Nurhadi sementara tidak bisa melayani banyaknya permintaan olahan stroberi. Seperti  sari stroberi, , selai, ataupun jenang stroberi. Kendati demikian, wisata petik stroberi tetap dibuka dan wisatawan tetap bisa menikmati serunya petik stroberi. Hanya saja, dengan harga wisata yang berbeda dari biasanya.

Bila biasanya Rp 30 ribu per kilogram, kini harganya naik menjadi Rp 50 ribu karena buah stroberi sedang langka.(*)